Translate

Minggu, 23 September 2012

Resensi Buku Ketika Mas Gagah Pergi Dan Kembali


Identitas Buku
                                                                                                                  
I.                 Judul Buku          : Ketika Mas Gagah Pergi dan Kembali        
II.                 Penulis                : Helvy Tiana Rosa 
III.              Ukuran Buku        : 14 cm x 20,5 cm
IV.             Penerbit               : Asma Nadia Publishing House
V.               Terbitan               : Juli 2011
VI.             Tebal Buku          : 259 Halaman
VII.          Jumlah Bab         : 15 Bab
VIII.           Lokasi Terbit       : Depok, Jawa Barat
IX.             Harga                   : Rp 38.250,00
X.               Penyunting          : Tomi Satryantomo


Resensi :
 
Gita adalah seorang remaja yang manis, ia duduk di bangku SMA, dan Ia selalu bangga kepada Abangnya yang Ia panggil Mas Gagah. Mas Gagah adalah sosok kakak yang sangat Gita idolakan, sebut saja dari cara berpakaian, Mas Gagah sangatlah lihai dalam memadupadankan  segala pakaian yang ada di dalam lemarinya, selain itu Mas Gagah  sangat ganteng dan modis dalam berpakaian. Sejak kecil Gita sangatlah  dekat dengan Mas Gagah. Tak ada rahasia di antara mereka. Mas Gagah selalu mengajak Gita kemana Ia pergi. Ia yang menolong saat Gita membutuhkan  pertolongan. Ia yang menghibur dan membujuk Gita di saat Gita bersedih dan kesepian. Membawa oleh-oleh sepulang kuliah, dan mengajari Gita belajar mengaji. Pendek kata, Mas Gagah selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untuk Gita. Saat memasuki usia dewasa, mereka menjadi semakin dekat dan akrab, kalau ada sedikit saja waktu yang kosong, maka mereka akan menghabiskan waktunya bersama-sama. Jala-jalan, nonton film, nonton konser musik, atau sekedar bercengkrama dengan teman-teman Gita. Mas Gagah yang humoris itu melontarkan lelucon yang membuat Gita dan teman-temanya tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia selalu mengantar gita dan teman teman gita sepulang latihan teater. Terkadang bahkan mereka mampir dulu untuk sekedar makan ke Kemang, Seven Eleven atau ke tempat yang lagi happening di kalangan anak muda Jakarta. Tak ada yang tidak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-nenek, orangtua, dan adik kakak teman-teman Gita semuanya menyukai sosok Mas Gagah. Sebenarnya Mas Gagah  tidak hanya sebatas itu saja. Banyak. Bahkan terlalu banyak hal yang tidak bisa di deskripsikan dari Mas Gagah.
Namun suatu hari Mas Gagah berubah! Di satu sisi Gita mengakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat pada waktunya, berjamaah di masjid, omonganya tentang agama terus. Kalau Gita iseng mengintip dari lubang kunci, Mas Gagah pasti sedang membaca buku-buku islam. Dan kalau Gita mampir di kamarnya, Ia dengan senang hati menceritakan kembali isi beberapa buku yang telah dibacanya, atau bahkan malah menceramahi Gita, ujung-ujungnya Gita di paksa dan di suruhnya untuk memakai kerudung. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilan Gita yang tomboy. Mas Gagah  juga tidak keberatan kalau Gita meminjam kaos atau kemejanya. Dan bahkan Ia sendiri dulu sering memanggil Gita dengan sebutan Gito. Eh sekarang malah manggil Gita memakai Dik Manis segala! Dan Mama pun juga menegur Mas Gagah, kata Mama, kenapa Mas Gagah berpakaian seperti ini? Tidak semodis dulu. Gita yang dari kemarin sudah mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada Abangnya itu hanya senyum-senyum saja. Dalam pengelihatan Gita, Mas Gagah terlihat lebih kuno, dengan memakai kemeja, bahkan terkadang memakai baju koko dan celana bahan hitam yang agak gombrang. Mas Gagah menjadi lebih pendiam. Itu juga yang Gita rasakan, tidak seperti dulu lagi, sosok Mas Gagah yang suka bercada dan melontarkan lawakan-lawakan nakal, sekarang berubah drastis menjadi sangat pendiam. Sepertinya Mas Gagah juga enggan bercanda atau ngobrol dengan teman-teman perempuan Gita. Dan yang paling parah, Mas Gagah emoh bersalaman dengan perempuan. Apa sih maunya Mas Gagah ini ?
“Subhanallah, bearti kakak kamu ikhwan dong” seru Tika setengah histeris mendengar cerita Gita. Temen akrab Gita ini memang sudah sebulan berjilbab rapih. Dan telah memuseumkan semua baju you can see-nya. Suatu hari Gita berfikir apa yang menyebabkan Abangnya berubah drastis seperti itu. Karena rasa penasaran Gita yang sangat teramat besar, kemudian Gita mengumpulkan segenap keberanianya untuk menanyakan segala pertanyaan yang ada di benaknya selama ini kepada Mas Gagah.
Hari demi hari pun berlalu. Gita dan Mas Gagah menjadi dekat lagi meski aktifitas dan kegiatan yang meeka lakukan berbeda dengan yang dahulu. Akhirnya Gita mengetahui hal apa yang menyebabkan abangnya itu berubah, ya walaupun sebenarnya masih banyak yang belum bisa Gita pahami, dan masih banyak yang beum bisa Gita menegerti dengan keberadaan Mas Gagah yang sekarang. Tetapi sungguh Gita sangat tidak mau kehilangan sosoknya. Gita selalu ingin berusaha untuk menjaga kedekatan hubungan mereka itu. Berubah pula semua kehidupan Gita yang tadinya agak tomboy dan cenderung selengeean, sekarang menjadi gadis cantik yang lemah lembut. Dan bahkan, tampilan fisik Gita yang sekarang mengenakan kerudung. Semenjak dirinya sering bergaul bersama Mas Gagah, gita telihat lebih percaya diri dan bertindak dengan dasar-dasar islami, seperti ia tidak lagi bersentuhan dengan lelaki ketika sedang bersalam-salaman, dan banyak sekali peubahan yang Gita lakukan.
Selepas shalat isya, Gita sedang mengutak atik laptop kesayanganya, membuka situs-situs tentang bahaya menggunakan narkoba, dan dampak nya bagi kesehatan tubuh manusia. “kemana yah Mas Gagah, sudah malam kok tumben belom pulang?” pikirnya melayang, mungkin sedang dalam perjalanan pulang. Detik demi detik berlalu, menit demi menit berlalu, sampai tepat jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.  Tiba tiba telepon di rumah berdering mengagetkan, papa yang ada di ruang tamu, langsung begegas mengangkat telepon yang berdering itu. “apaaaaa??? Gagah kecelakaan?”  seketika itu mendengar teriakan papah yang sangat kencang dan kabar yang tidak Gita duga membuat air mata Gita jatuh berlinangan membasahi pipi. Gita dan mama menangis berangkulan, jilbab yang mereka gunakan basah akibat derian air mata yang tiada hentinya mengalir. Mereka sekeluarga langsung bergegas ke rumah sakit. Gita menatap tubuh abangnya yang terbujur kaku di balik sebilah pintu kaca. Tangan dan kepala Mas Gagah terbalutkan perban.  Tidak lama dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri Gita dan keluarganya. Dan ternyata dokter Joko membawa kabar yang sangat tidak mereka harapkan,  bahwa nyawa Mas Gagah tidak dapat tertolong lagi. “inna lilahi wa inna ilaihi raji’un
Gita pandangi kamar Mas Gagah yang kini lengah. Gita merindukan panggilan Dik Manis yang selalu di tuturkan oleh Mas Gagah kepadanya. Rindu suara mas gagah yang selalu menasehatinya, rindu akan canda tawa dan hingar-bingar  yang dulu pernah ada. Namun sekarang hanyalah gambar gambar kaligrafi di dinding kamar Mas Gagah yang menatap Gita. Setitik air mata Gita jatuh lagi. Setetes, dua tetes, air mata gita kian menganak sungai. Di matikanya lah lampu. Dan di tutupnya lah pintu kamar Mas Gagah dengan pelan-pelan. Selamat jalan, Mas Ikhwan! Selamat jalan Mas Gagah…
Satu tahun kemudian, pagi itu Gita seperti biasa berari lari mengejar bus kota jurusan Pulo Gadung-Depok dengan seragam putih abu-abunya. Sejak kepergian Mas Gagah, Gita selalu tidak mau di antar oleh papanya menggunakan mobil sedan itu. Mobil sedan yang selalu di kendarai oleh Mas Gagah. Sesampainya di Bus, Gita mendapatkan tempat duduk di paling depan. Seketika itu masuklah seorang pemuda berpakaian culun ala-ala era tahun 80-an, memakai kemeja kotak-kotak dan celana panjang gombrang. Ternyata dan tidak di sangka-sangka, dia adalah orang penceramah jalanan. Yang Gita lihat darinya sosok yang kuat, dengan tegar ia menyampaikan firman-firman Allah yang banyak tidak di ketahui oleh umatnya. tidak terasa Gita pun hampir sampai di depan gerbang sekolanya. Seperti hari-hari biasanya Gita adalah seorang siswi kelas 2 sekolah menengah atas. Pelajaran yang setiap hari di perdengarkan oleh gurunya, sama sekali tidak masuk kedalam otak Gita. Yang ada di pikiran Gita adalah  hanya abangnya seorang, sosok Mas Gagah yang selalu membayanginya kemanapun Gita pergi.
Setelah setahun kepergian Mas Gagah, apa yang tejadi dengan Gita di kehidupanya? Lalu siapa lelaki berkemeja kotak-kotak yang selalu Gita lihat di dalam bus, kereta api dan di berbagai tempat itu? Dan mengapa lelaki itu mengingatkannya kepada Mas Gagah?

THE LAST GATHERING with @ProvokeMagazine and @REPROvoke :") #KingIsMe

Lo REPRO dan gak dateng acara ini? Waduh, tabah yah bro!
Pesta perpisahan REPRO vol.6 sekaligus penyambutan para REPRO baru vol.7 ini akhirnya selesai juga digelar pada tanggal 15 September lalu di [at]demajors Gandaria. Acara yang dikemas dalam nuansa 80an tersebut berlangsung heboh berat loh. Dipandu sama 2 agent provocateur, CEPS dan BORZ, keriaan dimulai dengan kata sambutan dari Yudhi Arfani, Senior Editor Provoke! yang ngejelasin info singkat soal majalah lo yang tercinta ini sekaligus apa fungsi REPRO. Ryani  Sisca dari SMA 2 Tangsel juga dapet kesempatan ngasih kesan pesan selama doi menjabat jadi REPRO vol.6. Sedangkan untuk wakil vol.7, ada Hapsa dari SMA 12 yang ngasih kata sambutan singkat.



Seperti biasa, di pesta penutupan volume ini, P! juga sempet ngasih penghargaan buat REPRO yang spesial. Yap, misalnya yang spesial rempong-nya (Bia – SMA 3), spesial kecenya (Kana- SMA Theresia), spesial diemnya (Ignatius-SMA Sang Timur), ato bahkan P! juga nyiapin piagam spesial buat REPRO yang paling sering dibicarain alias digosipin sama temen-temen REPRO-nya (Ryani-SMA 2 Tangsel). Selain itu, pastinya juga ada penghargaan Best REPRO dan King & Queen untuk mereka yang pol-polan dandan ala 80an. Untuk kali ini, yang berhak atas mahkota King & Queen adalah Herlambang Abytama SMA 64 dan Dhika SMA 3 Depok.


Nah, puncak acara dimulai pada pukul 5 sore. Lampu di seisi ruangan [at]demajors Gandaria mulai dimatikan dan satu-persatu lilin mulai dinyalakan. Diiringi sama lagu balada 80an, Bia (REPRO vol. 6) dan Angie (REPRO vol. 7) maju ke atas stage sambil membawa lilin. Bia kemudian menyalakan lilin yang dibawa oleh Angie sebagai simbol penyerahan jabatan REPRO. Acara ini berlangsung hikmat dan sempat diwarnai tangis haru beberapa peserta dari vol.6.

Berhubung acaranya bernuansa 80an, maka P! juga udah nyiapin bintang tamu spesial dong yang bisa ngajak lo semua disko ala eighties gitu. Visco yang tampil eksentrik pake kacamata berlampu, sukses ngajak seisi ruangan [at]demajors Gandaria jejingkrakan bahagia. Padahal, awalnya mereka pada malu-malu gitu hihihi. Selesai asik disko, giliran Mbak Imel dari Hop Hop The Bubble Drink selaku sponsor untuk ngasih kata sambutan. Pesta pun kemudian ditutup dengan acara foto bareng antar dua generasi tersebut.